Bus Rel Disiapkan untuk Kota-Kota Besar Cetak
Senin, 08 Juli 2019 16:20
INSTRAN.org – Rencana pemerintah mengembangkan sistem transportasi massal berbasis omnibus bahnhof (O-Bahn) dinilai akan efektif untuk mengatasi persoalan kemacetan di kota-kota besar di luar Jabodetabek. 
Hasil gambar untuk bus rel disiapkan untuk kota kota besar
Menurut pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Semarang, Djoko Setijowarno, ide O-Bahn merupakan terobosan yang sangat bagus bagi pe ngem bangan trans por tasi massal di kota-kota besar. Fleksibilitas O-Bahn karena bus tersebut dapat ber jalan di jalan raya umum mau pun jalur khu sus sehingga dapat semakin me narik minat masyarakat untuk lebih mengandalkan transportasi umum untuk mo bili tas se hari-hari. De - ngan begitu ting kat kemacetan di kota-kota besar pun dapat lebih ditekan. “O-Bahn cukup efisien karena bus-bus BRT (bus rapid transit) bisa sekaligus memanfaat kan ja lurjalur LRT (light rapid transit),” ujar Djoko. 

Untuk diketahui, O-Bahn per ta ma kali beroperasi di Kota Essen, Jerman, pada 1980. Dengan memodifikasi sistem kerja roda, bus dapat beroperasi juga di jalur khusus beton bercelah seperti rel, bahkan bisa dirangkai seperti ke re ta atau trem. Bus dengan sistem roda pandu atau guided bus seperti ini pertama kali diciptakan oleh pabrikan Mercedes-Benz . Pada dasarnya ini adalah sistem yang mengintegrasikan BRT dan LRT dalam satu jalur yang sa ma. Sistem yang juga disebut bus way ber pemandu ini kemudian di adopsi oleh ber bagai negara, ter utama Australia pada 1986, Inggris, Jepang, dan lainnya.

Kementerian Perhubungan pernah menyebut kan beberapa kota cocok untuk sistem ini, antara lain Medan, Makassar, Surabaya, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Sistem O-Bahn sangat mung kin tidak akan diterapkan di Jabodetabek karena Jakarta dan kota-ko ta di sekitarnya telah memi liki aneka moda trans - portasi yang mengarah terpadu seperti TransJakarta, commuter line (kereta rel listrik), moda raya terpadu (MRT), BRT, LRT. Djoko melanjutkan, sistem O-Bahn sejalan dengan rencana pemerintah menawarkan ske - ma buy the service melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Da rat. Skema buy the service ada lah penawaran layanan oleh pe merintah kepada pihak swas - ta guna mengoperasikan ang - kut an massal di daerah, terma - suk BRT. 

Nantinya operator mo - da transportasi adalah pihak swasta atau non-pemerintah me lalui lelang. Tiga kota besar menjadi proyek percontohan, yaitu Medan, Solo, dan Palem - bang, kemudian menyusul Yog - ya karta, Surabaya, dan Den pa - sar. Uji coba akan digelar pada 2020. “Kalau mau dijalankan pada 2020 melalui anggaran peme - rin tah, armada BRT untuk OBahn bisa dioperasikan,” kata Djoko. O-Bahn cocok untuk wilayah dengan demografi cenderung landai. Untuk Indonesia, karena infrastruktur transportasi massal belum banyak terinte - gra si, O-Bahn akan lebih banyak ber operasi sebagai BRT atau me lintasi jalan raya umum daripada jalur khusus baik layang maupun terowongan. Namun armada ini ditargetkan tetap bisa menghubungkan daerah pinggiran dan pusat kota. 

Anggota Komisi V DPR yang membidangi sektor transportasi Muhidin M Said mengata - kan pemerintah perlu mengembangkan lebih dulu konektivitas moda transportasi di kotakota besar dengan tingkat kema cetan tinggi sebelum me nerapkan O-Bahn di sana. “Jadi ja - ngan terburu-buru. Disiapkan dulu infrastruktur integrasi ber bagai moda transportasi mas salnya. Kalau sudah ada, baru O-Bahn bisa diterapkan,” ujarnya. Dia menjelaskan bahwa konsep O-Bahn banyak berhasil di Australia. Keberhasilan terse - but tak lepas dari konektivitas transportasi di Negeri Kanguru itu. 

Direktur Jenderal Perhubung an Darat Kementerian Per hubungan Budi Setiyadi meng akui, O-Bahn akan dite - rap kan di kota-kota besar di luar Jabodetabek. Untuk mewu jud - k an hal itu perlu komitmen ting gi dari pemerintah daerah me ngenai kebijakan maupun ang garannya. Pemerintah pu - sat cukup mengawasi. Soal ka - pa sitas dan target jumlah pe - num pang sepenuhnya adalah ke wenangan pemda. “Yang pen ting memang penyediaan aksesibilitas dan ko - nektivitas transportasi,” sebut Budi. Budi menambahkan, konsep O-Bahn paling cocok di te - rap kan di kota-kota yang me mi - liki kon sep aglomerasi seperti Yog ya kar ta yang dekat dengan Kla ten, Magelang serta Pur-worejo. 

Dia memaparkan, dalam O-Bahn, pengoperasian bus da - pat masuk ke jalur khusus se - perti rel kereta. Dapat dikata - kan O-Bahn adalah kombinasi bus dan trem. Lebar perkerasan jalur khu sus bus terpandu ini se - kitar 2 meter, sedangkan lebar ja lur lalu lintas di jalan berkisar 300-350 cm. Selain bisa menggu na kan bus gandeng, moda ang kut an ini dapat meng gan - deng dua atau tiga bus biasa atau dua bus gandeng menjadi satu rang kai an sehingga tidak ada lagi jarak (head way). 

Dua atau tiga bus ber fungsi seperti trem. Kele bih an ini memberi keun - tungan tambahan karena penyedia jasa pada jam sibuk hanya per lu menambahkan bus dan ti dak perlu menambah penge mudi. 

Ichsan amin 


Sumber : Koran sindo, senin 8 Juli 2019

http://koran-sindo.com/page/news/2019-07-08/0/5/Bus_Rel_Disiapkan_untuk_Kota_Kota_Besar

Deli.cio.us    Digg    reddit    Facebook    StumbleUpon    Newsvine